Skip to content
Insight

Mengapa Harga Laptop dan HP Makin Mahal di 2026?

Harga laptop dan HP terus naik karena krisis RAM global. Simak penyebabnya, berikut data terbaru 2026, dan apa dampaknya bagi konsumen Indonesia.

Zerone Global
October 19, 2026
7 min read
Mengapa Harga Laptop dan HP Makin Mahal di 2026?

Beberapa bulan terakhir, mungkin Anda kaget saat membuka e-commerce. Laptop yang tahun lalu dibanderol Rp10 juta kini naik satu sampai dua juta rupiah. HP kelas menengah yang biasanya sudah membawa RAM 8 GB, kini banyak yang "turun kelas" ke 4 GB atau 6 GB, padahal harganya tidak ikut turun.

Ini bukan kebetulan, dan bukan pula ulah satu-dua merek saja. Industri teknologi dunia sedang menghadapi krisis memori yang oleh Samsung di ajang CES 2026 dijuluki "RAMageddon". Menariknya, biang keroknya adalah teknologi yang setiap hari kita pakai: kecerdasan buatan (AI).

Kenalan Dulu dengan RAM

RAM (Random Access Memory) adalah "meja kerja" sebuah perangkat. Semakin luas mejanya, semakin banyak aplikasi yang bisa dibuka bersamaan tanpa membuat perangkat tersendat. Hampir semua benda elektronik modern memakainya: laptop, HP, tablet, smart TV, konsol game, hingga mobil.

Karena ada di mana-mana, RAM bukan komponen murah yang bisa diabaikan. Menurut CEO HP, Enrique Lores, RAM menyumbang sekitar 15–20% biaya produksi sebuah PC. Pada HP murah, porsinya bahkan lebih besar: komponen memori dilaporkan bisa mencapai lebih dari separuh biaya perangkat. Jadi, begitu harga RAM naik, harga gadget hampir pasti ikut terseret.

Biang Keroknya: AI yang "Rakus" Memori

Di artikel sebelumnya, kita membahas bagaimana data center AI sangat haus air. Ternyata, data center AI juga sangat "lapar" memori. Ada empat hal yang saling berkaitan di sini:

  1. Pabrik Lebih Memilih Membuat Memori untuk AI Server AI membutuhkan memori khusus bernama HBM (High-Bandwidth Memory) yang bisa mengalirkan data jauh lebih cepat. HBM dibuat di pabrik dan dari bahan baku (wafer silikon) yang sama dengan RAM biasa. Karena HBM jauh lebih menguntungkan, Samsung dan SK Hynix dilaporkan mengalihkan hingga 40% kapasitas manufaktur canggihnya ke HBM.

  2. HBM Sangat Boros Bahan Baku Untuk menghasilkan jumlah data yang sama, HBM membutuhkan wafer sekitar tiga kali lipat dibanding RAM DDR5 biasa. Artinya, setiap keping HBM untuk server AI "memakan jatah" RAM untuk banyak laptop dan HP.

  3. Pemainnya Hanya Segelintir Pasar RAM dunia dikuasai tiga raksasa: Samsung, SK Hynix, dan Micron. Ketika ketiganya kompak memprioritaskan AI, konsumen nyaris tidak punya alternatif. Micron bahkan mengumumkan keluar dari bisnis RAM konsumen mulai Februari 2026 untuk fokus melayani data center. SK Hynix pun menyatakan kapasitas produksinya untuk 2026 praktis sudah habis terjual.

  4. Ini Bukan Krisis Chip ala Pandemi Kelangkaan chip pada 2021 terjadi karena pabrik terganggu (supply-side). Krisis 2026 berbeda: pabrik tetap berjalan normal, tetapi permintaan AI menyerap kapasitasnya (demand-driven). Kini AI diperkirakan memakai sekitar 20% total produksi DRAM dunia, padahal dua tahun lalu porsinya masih satu digit. Sederhananya, konsumen biasa kalah bersaing dengan raksasa teknologi yang sanggup membayar lebih mahal.

Seberapa Besar Kenaikannya?

Angkanya membuat para analis sendiri terkejut. Lembaga riset TrendForce mencatat harga kontrak DRAM pada kuartal pertama 2026 melonjak 90–95% hanya dalam satu kuartal, kenaikan kuartalan terbesar yang pernah tercatat. Gartner memproyeksikan harga DRAM sepanjang 2026 naik sekitar 130% dibanding tahun sebelumnya.

Periode

Perkembangan Harga DRAM

Kuartal I 2026

Naik 90–95% dibanding kuartal sebelumnya (rekor)

Kuartal II 2026

Samsung menaikkan harga sekitar 30% lagi, setelah sebelumnya menggandakannya

Kuartal III 2026

Naik 13–18%, mulai melambat karena daya beli konsumen tertekan

Kuartal IV 2026 (Proyeksi)

Masih naik 10–15% untuk DRAM umum

Kenaikan memang mulai melambat, tetapi harga belum turun. TrendForce bahkan memperkirakan jatah kapasitas untuk RAM PC pada 2027 akan makin menyusut, karena pabrik terus memprioritaskan server AI.

Apakah Ini Hanya Terjadi di Indonesia?

Tidak. Krisis ini bersifat global. Raksasa laptop global seperti Dell dan Lenovo menaikkan harga perangkatnya sekitar 15–20%. Di Tiongkok, Huawei ikut menaikkan harga, padahal kebutuhan chip AI Huawei sendiri turut memperparah kelangkaan. Samsung juga terang-terangan mengakui tidak bisa melindungi produknya dari kenaikan biaya.

Namun, konsumen Indonesia bisa merasakan dampak yang lebih berat. Beberapa buktinya:

  • Harga RAM eceran melonjak lebih tajam. Menurut distributor komponen PC besar di Tanah Air, kenaikan harga RAM di Indonesia sempat mencapai 300–400%.

  • Laptop naik serentak. Lenovo, ASUS, Acer, dan HP mengumumkan penyesuaian harga mulai 1 Januari 2026. Laptop seharga Rp10 juta berpotensi naik menjadi Rp11,5–12 juta.

  • HP ikut menyusul. Sejak April 2026, Samsung, Xiaomi, Oppo, Realme, Vivo, dan Infinix menaikkan harga di Indonesia. Beberapa model entry-level naik 10–20%, sementara sejumlah seri Galaxy A naik Rp200 ribu hingga Rp700 ribu.

Mengapa bisa lebih terasa? Hampir seluruh komponen dan perangkat elektronik di Indonesia diimpor dan dibeli dengan dolar AS, sehingga kenaikan harga global berlapis dengan biaya distribusi dan nilai tukar. Di sisi lain, daya beli masyarakat untuk gadget tidak ikut naik.

Waspada "Shrinkflation" Gadget

Tidak semua kenaikan terlihat di label harga. Banyak produsen memilih strategi yang lebih halus: harga tetap, spesifikasi diturunkan. Fenomena ini mirip shrinkflation pada makanan ringan, ketika ukuran kemasan sama tetapi isinya berkurang.

TrendForce memperkirakan pemangkasan spesifikasi dan melambatnya peningkatan kapasitas RAM akan menjadi strategi utama produsen sepanjang 2026. Dampaknya mulai terasa di pasar:

  • HP kelas menengah dengan RAM 12 GB diprediksi makin langka.

  • RAM 4 GB kembali populer di segmen entry-level, padahal tren beberapa tahun terakhir sudah bergerak ke 8 GB.

  • Pengamat gadget Aryo Meidianto memperkirakan HP Rp2 jutaan dengan RAM 8 GB akan sulit ditemukan, sementara HP Rp1 jutaan kemungkinan mentok di RAM 4 GB.

Ironisnya, ini terjadi saat aplikasi dan fitur AI di HP maupun laptop justru menuntut RAM lebih besar. Laptop berlabel "AI PC", misalnya, membutuhkan minimal 16 GB RAM agar fitur AI-nya berjalan lancar.

Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kita memang tidak bisa mengendalikan pasar memori dunia. Namun, kita bisa lebih cerdas dalam mengambil keputusan.

1. Untuk Konsumen Pribadi:

  • Teliti spesifikasi, jangan hanya harga. Bandingkan kapasitas RAM dan penyimpanan dengan model generasi sebelumnya. Harga yang sama belum tentu berarti nilai yang sama.

  • Beli sesuai kebutuhan, bukan tren. Untuk mengetik, browsing, dan rapat daring, RAM 8 GB umumnya masih cukup. RAM 16 GB ke atas baru benar-benar terasa manfaatnya untuk desain, edit video, atau coding berat.

  • Pilih laptop yang RAM-nya bisa di-upgrade. Laptop dengan RAM tertanam (soldered) tidak bisa ditambah kelak. Slot RAM terbuka memberi Anda pilihan untuk menambah memori saat harga sudah lebih bersahabat.

  • Rawat dan perpanjang umur perangkat lama. Membersihkan aplikasi yang tidak terpakai atau mengganti penyimpanan ke SSD sering kali sudah cukup membuat perangkat lama terasa lebih segar.

2. Untuk Sekolah, Kampus, dan Organisasi:

  • Rencanakan pengadaan lebih awal. Harga diperkirakan masih naik hingga 2027, sehingga anggaran pengadaan perangkat perlu memperhitungkan kenaikan ini.

  • Utamakan sistem berbasis web dan cloud. Aplikasi yang berjalan di peramban, seperti sistem informasi sekolah atau platform ujian daring, tidak menuntut spesifikasi perangkat tinggi. Siswa dan guru tetap bisa bekerja optimal meski memakai perangkat sederhana.

  • Pertimbangkan program peremajaan perangkat. Menambah RAM atau mengganti SSD pada komputer laboratorium lama sering kali jauh lebih hemat dibanding membeli unit baru.

Bukan Strategi Marketing

Kenaikan harga laptop dan HP hari ini bukan sekadar strategi dagang satu merek. Ini adalah efek domino dari ledakan AI: pabrik memori mengalihkan kapasitasnya ke server AI yang lebih menguntungkan, sementara konsumen biasa mendapat sisa pasokan dengan harga lebih tinggi.

Tanpa kita sadari, setiap kali membeli gadget baru, kita ikut membayar semacam "pajak AI". Memahami hal ini membantu kita menjadi konsumen yang lebih kritis: tidak mudah tergiur label "AI", jeli membaca spesifikasi, dan bijak memilih kapan serta apa yang perlu dibeli.


Bagaimana pengalamanmu? Apakah kamu sudah merasakan harga gadget naik, atau malah menunda membeli perangkat baru? Bagikan ceritamu di kolom komentar, dan jangan lupa sebarkan artikel ini agar teman-temanmu tidak kaget saat berbelanja gadget!


Referensi & Sumber Bacaan

  1. ChannelNews – CES 2026: Samsung Warns RAM Shortage Will Drive Consumer Tech Price Hikes

  2. SoftwareSeni – DRAM Prices in 2026 Have Doubled (merangkum data TrendForce dan Gartner)

  3. Algeria Tech News – RAMageddon

  4. Razom – Huawei Raises Prices Due to Memory Shortage

  5. Pro Networks – Why AI Is Driving Up the Price of Your Next PC

  6. OnMSFT – Samsung Raises DRAM Prices for Q2 2026

  7. iConnect007 – AI Server Demand Keeps Memory Prices Up in 3Q26 (data TrendForce)

  8. IT之家/ifeng – Proyeksi TrendForce Kuartal IV 2026

  9. detikINET – Siap-siap, Harga Laptop Akan Naik Karena Krisis RAM

  10. Selular.id – Harga Laptop Lenovo, ASUS, Acer, dan HP Naik Mulai Januari 2026

  11. Selular.id – RAM Langka, Ada Jurus Supaya Smartphone dan Laptop Tetap Laris

  12. Selular.id – Tren HP Android 2026: RAM 12 GB Langka

  13. Romi Saputra – Harga HP di Indonesia Naik per April 2026

  14. GKomunika – Harga RAM Naik Drastis: Penyebab, Dampak, dan Prediksi

Share This Article

WhatsApp

Related Articles

Di Balik Canggihnya AI: Mengapa Data Center Sangat "Haus" Air?

Di Balik Canggihnya AI: Mengapa Data Center Sangat "Haus" Air?

AI memberi jawaban instan tanpa asap pabrik, Simak fakta mengejutkan tentang jejak air AI dan solusi nyatanya.

Read More

Zerone Global

September 30, 2026

Mengenal Gaya Desain Website Modern di 2026

Mengenal Gaya Desain Website Modern di 2026

Mengenal Gaya Desain Website Modern di 2026 - Desain website hari ini tidak lagi sekadar "minimalis dan rapi".

Read More

Zerone Global

September 30, 2026

Mengenal Apa Itu OPSI 2026: Panggung Puncak Riset Siswa Indonesia di Universitas Muhammadiyah Jakarta

Mengenal Apa Itu OPSI 2026: Panggung Puncak Riset Siswa Indonesia di Universitas Muhammadiyah Jakarta

OPSI adalah ajang kompetisi penelitian ilmiah tahunan resmi berskala nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas)

Read More

Zerone Global

September 29, 2026

Chat with us
Follow our journey
Send us an email